Manajemen Optimis

Pengalaman pahit dan manis merupakan keniscayaan hidup yang mewarnai siklus dinamika alamiah manusia. Setiap insan senantisa menghadapi medan ujian kualitas iman dan kepribadian (Q.S. Al-anbiya : 35-, Al-Mulk : 2) yaitu kutub idealita dan realita, cita-cita dan hasil nyata, haparan dan kenyataan.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan dirinya, baik sebagai individu, anggota keluarga, kelompok masyarakat, organisasi maupun umat dunia, manusia senantiasa menghadapi peluang dan tantangan. Bil a peluang dan kesempatan yang terbentang besar adanya, lalu ditambah pula dengan modal, potensi, kekuatan maupun kelebihan diri, timbullah rasa optimis (al-fai) pada diri manusia.. Sebaliknya bila kekuatan dan potensi yang dimiliki kurang memadai, atau kelemahan dan kekuranga diri lebih besar dibandingkan tantangan dan ancaman, maka biasanya seseorang mudah dihinggapi rasa pesimis (al-yas).

1. Arti Optimisme
Optimisme adalah keyakinan akan kemampuan diri. Sikap optimis tentu saja bernilai positif karena mampu memompa semangat dan merangsang kinerja amal seseorang. Namun, sebagaimana vitamin yang penuh khasiat, dosisnya perlu dijaga sesuai kebutuhan.
Optimisme tanpa kalkulasi dan pertimbangan yang tepat adalah suatu kekonyolan yang dapat menjurus kepada sikap bodoh yang dibenci Allah sebagaimana diungkapkan Imam Ghazali. Optimisme macam ini cenderung melahirkan perilaku over estimate, menipu diri dan terlalu berharap.
Sebaliknya, krisis optimisme pun dapat menimbulkan rasa pesimis yang tidak proporsional. Akibatnya, seseorang harus mengalami kesengsaraan karena kalah sebelum berjuang. Sikap pesimis merupakan watak fatalis kaum kafir yang tidak pandai menyukuri nikmat yang ada untuk tetap berharap dan berusaha. Wujudnya adalah cepat putus asa dan senang menyalahkan takdir atau orang lain (Q.S. Yusuf : 87, Fathir : 5, Al-Kahfi : 34-39). Sering terjadi, godaan pesimisme atau rasa optimisme yang over dosis menyulitkan proses pengembangan dan aktualisasi yang dinamis dan produktif.

2. Optimisme dalam setiap situasi
Dalam menghadapi situasi kritis, seorang Muslim harus memiliki optimisme yang tinggi. Betapa banyak contoh penyakit menahun dan akut yang dapat disembuhkan berkat optimisme tinggi. Inilah gairah hidup, yang disebut oleh Dr. Jeanne Segal dalam Raising Your Emotional Intelligence (1997) sebagai sarana untuk mengundang perubahan yang menyembuhkan. Dalam istilah Syariah, ketangguhan mental yang didukung oleh sikap optimis merupakan sikap sabar yang positif (shabr jamil), yang dapat mengatasi segala persoalan, tentu bila disertai doa dan usaha tawakal.
Rasulullah pun sering berpesan kepada pasangan suami istri untuk bersabar dan tetap optimisme saat menghadapi perangai pasangan yang kurang berkenan dihati, dengan harapan suatu hari akan menjadi lebih baik. Sikap optimis yang benar dan sabar merupakan mental positif. Sebaliknya kesal, jengkel dan putus asa adalah mental negatif. Menurut F. Bailes, dalam bukunya, Penyembuhan Penyakit melalui Pikiran. Pikiran yang positif akan menyehatkan sel-sel tubuh dan pikiran yang negatif akan merusak sel-sel tubuh.
Sikap optimis yang dikelola dengan baik,menurut Alan Loy McGinnis dalam The Power of Optimism (1990), yang akan melahirkan dua belas mental positif yang dapat membangun citra dan kekuatan diri yang handal, yaitu :
  1. Jarang terkejut menghadapi kesulitan
  2. Berorientasi kepada pemecahan masalah (solusi)
  3. Memiliki keyakinan untuk menghadapi masa depan
  4. Memiliki potensi pembaharuan secara teratur
  5. Menghentikan pola pikir negatif
  6. Meningkatkan kekuatan apresiasi
  7. Mendayagunakan imajinasi produktif
  8. Selalu merasa gembira dan sulit dihinggapi kesedihan
  9. Memendam kemampuan yang dapat dikembangkan
  10. Selalu membina cinta dan kasih sayang
  11. Suka bertukar berita/ informasi
  12. Menerima apa yang tidak bisa diubah

Manajemen harapan dan optimis diibaratkan oleh Imam Ghazali sebagai obat yang sangat dibutuhkan oleh dua tipe orang, yaitu seseorang yang dikuasai rasa pesimis (yas) sehingga justru meninggalkan usaha dan amal shalih (tafrith), dan seseorang yang dikuasai rasa cemas (khouf) berlebihan, hingga memaksakan diri dan keluarganya dengan ekstra usaha dan ibadah secara ekstrim (ifrath). Bagi kedua tipe orang ini, obat optimisme dapat meluruskan pola hidupnya menjadi normal.
Jadi, manajemen optimisme yang baik memerlukan seni kombinasi dan harmonisasi dari rasa harap dan cemas. Dalam bahasa Al-Quran, hal ini disebut sebagai sikap harap-harap cemas (khoufan wa thamaan atau raghaban wa rahaban) dalam aktualisasi keshalihan. Sikap ini mengajarkan bahwa kecemasan diperlukan untuk memacu kerja dan upaya maksimal agar tidak cepat berpuas diri dalam kebaikan. Sebaliknya, optimisme dan harapan sangat diperlukan sebagai energi hidup agar tetap menyala, bersemangat dan tidak kenal menyerah.
Melalui manajemen optimisme, kita tak akan lancang mendahului penilaian dan takdir Allah sehingga kita berhenti berbuat. Kita tak juga aka menilai kecukupan usaha berdasarkan perkiraan manusiawi yang pendek dan terbatas. Bukankah kita harus menghayati dan mengamalkan filosofi Iyyaka Na buduuwa Iyyaka Nasta in agar hidup kita realistis dengan sunatullah ? Ada baiknya juga kita camkan perkataan Claire B. Luce : “Tidak ada situasi tanpa harapan dalam hidup kita; yang ada hanyalah orang yang merasa tidak berdaya menghadapinya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s