Jangan Minder Menjadi Ibu Rumah Tangga

Saya sering melihat ibu rumah tangga yang tersipu malu ketika ditanya soal pekerjaan. “Cuma ibu rumah tangga…” Jawab mereka. Kondisi malu-malu ini muncul dimana saja. Pada acara kuis televisi, seminar, diskusi, obrolan santai atau acara pengajian ibu-ibu.
Seorang teman lulusan Fakultas Hukum berkata, “Sekarang aku sudah menjadi Pengacara alias pengangguran banyak acara. Ya beginilah, setiap hari ngurus anak, dapur, cucian. Kerjaan ngga selesai-selesai…kayanya aku sekarang jadi bodoh sekali. Ngga sempat baca buku !”.
Ada juga sih yang dengan penuh kesadaran memilih jadi ibu rumah tangga. Waktu itu saya sempat menganggat issue ini menjadi tema diskusi yang cukup hangat dengan seorang adik kelas. Diskusi ini berlangsung sewaktu dia sedang mengambil program S2-nya di Inggris. Asumsi saya, adikku yang sudah menempuh pendidikan tinggi itu pasti menolak menjadi full time mother seusai menyelesaikan S2-nya. Ternyata perkiraan saya salah. “Saya yakin nanti akan end-up di rumah, jadi full time mother seperti ibu mengasuh kami sewaktu kecil”. Tekadnya mantap. Praktiknya ? Belum terbukti sih, soalnya dia belum menikah.
Sementara itu tukang jamu langganan saya setiap hari memproduksi jamu dan menjualnya berkeliling dengan menggenjot sepeda tuanya. Pikirannya sederhana saja, jauh dari perdebatan gender tentang peran pria dan wanita.
Setelah menjadi ibu, saya sendiri pernah menjalani tiga babak kehidupan. Jadi ibu rumah tangga, bekerja full time dan bekerja paruh waktu. Kondisi pertama saya jalani setelah melahirkan anak pertama sampai anak kedua berusia 1.5 tahun.
Setelah lulus kuliah, bisa dikatakan saya memang tidak punya profesi sesuai dengan keinginan dan kemampuan saya. Saya bahkan tidak berani melamar pekerjaan karena merasa belum siap dengan kondisi internal. Saya tetap dapat mengikuti perkembangan kelimuan kesehatan dengan berlangganan beberapa jurnal dan terus menjaga kontrak dengan teman-teman kuliah yang rata-rata sudah bekerja supaya tidak terlalu ketinggalan berita. Pendek kata, saya enjoy saja dengan pekerjaan memasak, nyuapin anak-anak, ngurus rumah, ditambah dengan aktvitas dakwah yang membuat saya selalu on the move.
Lalu, saya ingin jadi penulis dan berfikir untuk memulainya dari rumah. Masalahnya ialah, saya baru punya keinginan dengan secuil kemampuan. Saya pun harus mewujudkan keinginan itu dengan banyak belajar. Belajar menangkap nara sumber, wawancara, meliput acara, membuat berita, membuat tulisan yang bagus dan seterusnya. Singkat cerita, akhirnya saya menjalani babak yang kedua, kerja full time (berangkat pagi dan pulang menjelang maghrib) sebagai staf redaksi sebuah majalah kedokteran yang terbit sebulan sekali.
Malam-malam pertama bekerja saya habiskan dengan linangan air mata saat melihat anak-anak sudah terlelap. Duh…berapa jam hak kalian yang sudah Bunda rampas ! Syukurlah suami selalu menenangkan saya, “The show must go on”.
Kadang-kadang bahkan air mata itu tiba-tiba saja meleleh di perjalanan atau di kantor saat teringat wajah anak-anak. Apalagi saat harus meliput keluar kota. Saat pesawat lepas landas, rasanya seperti ada sembilu yang menusuk hati. Sungguh lima bulan yang melelahkan.
Alhamdulillah, krismon (krisis moneter) membawa berkah. Berakhirlah babak kedua. Dalam rangka efisiensi, kantor membuat peraturan ­shift-shiftan buat karyawan. Sejak saat itu, tidak ada lagi setiap hari ke kantor. Paling-paling dua atau tiga kali dalam seminggu. Satu hal penting yang saya ingat, masa itu adalah masa-masa penting untuk belajar. Saya belajar bikin janji wawancara, berhadapan dengan sekretaris yang rese, bikin transkrip, wawancara, translate artikel, menulis dan lain-lain. Alhamdulillah the show must go on…
Kenapa minder ? Jika saya merasa sakit saat harus meninggalkan tugas sebagai ibu, mengapa ada sebagian perempuan yang minder dengan peran ibu rumah tangga-nya ? Apa yang salah dari profesi yang sangat mulia ini ? Tentu tidak salah, tapi ada masalah. Menurut saya, ada beberapa hal yang menjadi penyebab, yaitu :
Pertama, tidak ada pengakuan. Banyak orang yang meremehkan pekerjaan memasak, mencuci, beres-beres rumah, menyuapi anak, menemani anak bermain, membimbing anak belajar dan seterusnya. Pekerjaan di rumah sama sekali bukan pekerjaan yang sepele. Kalau mau diukur dengan uang, siapa yang sanggup membayar pekerjaan ibu rumah tangga ? Jam kerjanya tidak terbatas. Dari Shubuh sampai menjelang tidur, bahkan kalau punya bayi waktu tidur pun akan terganggu.
Kedua, kurang penghargaan. Hampir semua yang berbau modern diambil dari dunia barat. Padahal disana nilai keluarga tidak lagi utuh. Keluarga sebagai institusi sudah dianggap tidak perlu. Keinginan hubungan seks maupun punya anak bisa diperoleh tanpa nikah. Akhirnya, profesi ibu rumah tangga akan terhapus. Sementara, masih banyak para suami yang belum bisa menghargai profesinya istrinya ini. Jangankan memberikan fasilitas kerja yang baik, memberi pujian pun tidak. “Ah itu kan memang tugasnya istri”, pikir mereka. Akibatnya, para suami model ini merasa tak perlu memberikan imbalan apa-apa. Bahkan merasa tak perlu juga turun tangan membantu jika sang istri kerepotan.
Ketiga, tidak mandiri. Rasa tergantung penuh secara finansial kepada suami, tidak punya keleluasaan saat ingin membantu orang lain atau membeli barang-barang yang diinginkan, pada akhirnya memang membuat banyak ibu merasa tertekan.
Keempat, tidak dapat menggali potensi diri. Kisah kaum ibu yang suka ngerumpi, atau menghabiskan waktu menonton telenovela di televisi memang bukan khabar burung semata. Penyakit-penyakit ini banyak menjangkit kaum ibu berpendidikan di kota, apalagi di desa. Alasan tidak sempat (atau tidak mau) membaca, menghadiri majelis-majelis ilmu dan menggali kemampuan yang dimilikinya menyebabkan citra ibu rumah tangga kian coreng-moreng.
Apakah setiap ibu yang memiliki mata pencaharian selalu dikatakan sebagai ibu bekerja ? Kenyataannya tidak. Banyak ibu-ibu yang memiliki usaha dari rumah dan dapat menopang perekonomian keluarga dikatakan sebagai tukang jahit, tukang kue, tukang jamu dan seterusnya. Lantas, apakah ibu rumah tangga itu tidak bekerja ? Buktinya kerjaan di rumah tak habis-habis.
Setelah saya menjalani tiga babak kehidupan saat menjadi ibu, saya menarik kesimpulan bahwa markas saya memang di rumah. Saya merasa punya tanggung jawab penuh terhadap perkembangan anak-anak. Bila terjadi ketidakseimbangan karena sering meninggalkan markas, maka akan ada hak-hak yang terampas. Bisa hak Allah, diri sendiri, suami, anak-anak, tetangga, keluarga besar dan lain-lain.
Setiap kali ada penambahan peran (termasuk peran profesi) pasti akan menuntut adanya pengorbanan. Apakah kita siap ? Jawabannya tergantung pada situasi dan kondisi. Kadang dalam situasi dan kondisi tertentu kita bisa jadi super woman.

Lalu, kenapa masih minder menjadi ibu rumah tangga ? Mungkin, menurut saya, keminderan ibu-ibu disebabkan kebutuhan-kebutuhan diatas tidak terpenuhi. Bagaimanapun kaum ibu tetap butuh pengakuan, penghargaan, kemajuan dan juga butuh uang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s