Puasa Bikin Kita Lebih Peduli

DI dunia ini,  pernah hadir seorang  yang bernama Karl Marx. Lelaki yang hidup seabad lalu itu pernah menyodorkan satu teori, bahwa segala persoalan di dunia ini berpusat pada perut. Semua orang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya hingga tidak kelaparan. Itulah yang menyebabkan terjadinya persaingan, perebutan, bahkan pertumpahan darah sepanjang sejarah. Kesimpulannya, perang dan damai ditentukan oleh perut.

Lima puluh tahun kemudian muncul seorang lagi dengan membawa teori baru. Pria ini bernama Sigmund Freud. Dalam teorinya ia membantah, bahwa bukan perut yang menjadi pangkal persoalan hidup ini, tapi faraj (kelamin). Sukses atau gagalnya seseorang, cerdas atau tidaknya manusia berpangkal pada satu soal, yaitu libido, keinginan jantan kepada betina, dan sebaliknya.Menurut teori ini, pangkal persialan dunia bukan pada perut, tapi di bawah perut.

Tujuh abad sebelum Karl Mark dan Sigmund Freud, telah lahir pujangga dan filosof Islam, Imam Al Ghazali. Ia menyatakan bahwa kedua faktor—perut dan faraj—itu—memang sangat penting. “Andai kata kaum lelaki  tidak berkeinginan terhadap wanita, maka tiada lagi keturunan manusia. Andai manusia tidak ingin makan, binasalah semua,” katanya.

Tetapi Al Ghazali tidak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahwa manusia telah dikaruniai oleh Allah akal sehat, yang punya kemampuan untuk menimbang yang baik dan buruk. Allah juga menurunkan agama, yang membeberkan halal dan haram, yang boleh dan yang dilarang. Dengan agama, manusia akan terbimbing hidupnya sehingga dapat menikmatinya dengan penuh bahagia dan sejahtera.

Pada kenyataannya, perut memang kecil saja. Panjangnya kira-kira sejengkal, lebarnya dua jengkal. Akan tetapi bila kemauannya dituruti, semua isi dunia ini akan ditelan. Asalnya berebut sepiring nasi, ingin menyimpan untuk esok hari, lama-lama ingin mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diwariskan ke anak cucu hingga turunan ke tujuh.

Dari sekadar nafsu makan, akhirnya lahir keinginan yang lebih besar, yaitu keinginan untuk menguasai. Dari sana lahir paham kapitalisme dan imperialisme. Manusia menguasai manusia. Manusia memperbudak sesamanya.

Demikian halnya syahwat. Sejak dikumandangkan ajaran Freud, wanita telah maju beberapa langkah menuju kepada kehidupan binatang. Rasa malu yang seharusnya dimiliki kini ditanggalkan, pakaian yang seharusnya dikenakan, kini dilucuti. Aurat yang seharusnya ditutupi kini dibuka lebar-lebar. Keelokan dan kecantikan yang seharusnya dirawat dan dijaga, malah diperlombakan. Persis kontes satwa di kebun binatang. Pemain dan penonton sama-sama tertawa, walau sejatinya ada dalam kerangkeng kaptalisme-materialisme.

Untuk mempercepat kebebasan jiwa guna mendapatkan kepuasan seks, maka minuman keras adalah alternatifnya. Dengan minuman keras, orang menjadi lupa terhadap ikatan hidup, termasuk agama. Orang menjadi fly antara sadar dan tidak. Karenanya, antara seks dan minuman keras tak bisa dipisahkan. Tak puas dengan minuman keras, mereka lari ke narkotika, ganja, dan obat-obatan lainnya. Harganya yang tinggi tidak menjadi masalah, bagi mereka yang penting nafsu terpuaskan.

Narkoba kini bahkan sudah menjadi ‘konsumsi umum’ yang mengerikan. Para penggunanya sudah merambah ke mana-mana, mulai  kaum muda hingga anak-anak di kota dan desa; guru, lurah, aparat keamanan, pejabat pemerintah, publik figure, lelaki perempuan telah begitu akrab dengan barang haram yang satu ini. Di kantor, di sekolah hingga penjara jadi ajang transaksi—bahkan produksi– benda haram ini.

Demi kebebasan seksual, orang berganti-ganti pasangan. Tak puas dengan yang satu, cari yang lain. Sebagian kaum lelaki ada  yang bosan dengan wanita, begitu sebaliknya, maka timbullah kaum homo dan lesbi. Demi alasan hak azasi manusia, mereka menuntut agar mendapat kedudukan yang sama dan diakui keberadaannya. Dari gonta-ganti pasangan sejenis iniah kemudian tumbuh penyakit baru yang sangat mengerikan, AIDS.

Asal manusia mau menggunakan akal sehatnya, mereka akan mengatakan bahwa kondisi ini sangat membahayakan. Apalagi bagi kaum muslimin yang menjunjung akhlak mulia, tentu menyatakan bahwa hal ini merupakan krisis yang membahayakan kehidupan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s