Sajak Se-Cangkir Kopi

                            
Secangkir Kopi
Cangkir kopi yang beradu punya iramanya
Terdengar oleh telinga yang lama tak mendengar suara
Ia berimaji seolah getrukan nya adalah sebuah lagu dalam pentas panggung
Busanya menghilang satu-satu
Terlihat oleh mata yang lama tak melihat ada gelembung warna
Selamanya hitam, biar saja…
Tapi kali ini gelembungnya serupa jingga entah dari mana
Kopi selalu punya chemistry antara arah dan jalur dua hati
Berjarak tapi dekat
Dekat namun tak terkira jauhnya
Dan kopi selalu punya akhir tak bahagia
Hilang saripati, lalu larut dalam pusaran…
———————————————————-
Catatan kaki dari Abi:
Pernahkah kalian meraba-raba dalam sebuah hantaran cinta? Hantaran yang tidak jelas dan tidak rapi? Di mana tiap hari kita bertanya, benarkah si dia ada rasa? Atau aku saja. Ah, ya sudahlah. Tak pantas aku memikirnya.
Nah, Ummi membuat sajak ini, tahun lalu, saat Abi merasakan hal itu. Dan Abi melihat ini sebagai “sandi rahasia” yang menjawab penasaran Abi. Dalam sajak ini samar terbaca jawaban “Ya” dari Ummi akan harapan cinta Abi. Ummi merasakan perasaan maju mundur yang sama. Dan untungnya Abi mengerti apa yang tersirat dari sajak Ummi. Sehingga Abi mempunyai keyakinan yang memadai, untuk segera mengkhitbahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s