Renungan diri.

APAKAH KEBAHAGIAAN ITU?
Apakah yang lebih menenangkan hati seorang suami melebihi keikhlasan isteri mencintai?
Apakah yang lebih membahagiakan seorang lelaki melebihi ketulusan wanita menerima keadaan suami apa adanya?
Apakah yang lebih patut disyukuri melebihi ketegaran isteri menjalani hidup yang bersahaja karena kuatnya ‘izzah (harga diri) dan penjagaan diri dari dosa?
 Padahal kesempatan untuk memperoleh dunia seisinya ada pada diri suami tanpa berbuat dosa.

Kerja keras yang profesional memang akan membuka pintu-pintu rezeki sehingga mengalir deras ke tangan kita. Tetapi sangat berbeda nikmat yang kita rasakan antara kerja keras yang bertujuan untuk menimbun harta dengan kerja keras demi mengumpulkan bekal untuk amal shalih. Kita bekerja keras bukan demi mengejar harta semata, tetapi kerja keras itu sendiri merupakan amal shalih yang bisa kita harapkan buahnya di akhirat, sementara harta yang kita peroleh dari bekerja bisa kita belanjakan untuk menolong agama Allah Ta’ala, membantu proyek-proyek kebaikan dan berbagai amal shalih lainnya yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.
Kerja-keras demi menimbun harta akan membuat kita merasa kehilangan setiap ada yang terlepas dari tangan kita, meski sangat sedikit. Sementara bertambahnya tidak membuat hati kita semakin tenang. Justru sebaliknya, semakin bertambah harta kita semakin gelisah rasanya hidup kita karena terus-menerus dikejar angan-angan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi. Padahal, sangat sedikit yang bisa kita lakukan dengan harta kita. Kita memang bisa membeli kemewahan dengan harta yang kita miliki. Tetapi harta tidak bisa membeli kebahagiaan dan kedamaian jiwa.

Inilah paradoks kekayaan ketika waktu, tenaga, pikiran dan perasaan kita terus-menerus dikuras untuk mengejarnya. Inilah paradoks yang getir. Semakin banyak kita menimbun harta, semakin miskin rasanya diri kita. Semakin besar simpanan uang kita, justru cenderung membuat kita semakin tak bisa tenang. Kita semakin tak punya waktu untuk menikmati hidup dan mensyukuri karunia Allah Ta’ala. Sebaliknya, kita justru semakin disibukkan oleh hasrat menggebu untuk mengejar uang yang lebih banyak lagi. Akibatnya, kita semakin sulit bahagia. Dan itulah yang hari ini –sebagaimana hasil sebuah riset—dirasakan oleh jutaan warga Amerika. Mereka semakin sulit menemukan kebahagiaan di saat hidupnya semakin makmur. Mereka semakin merasa miskin, di saat kekayaannya bertambah-tambah.

Semoga bermanfaat….!!!

Sumber : Yusuf Mansur Network

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s